Uma; Rumah Adat Suku Mentawai

Setiap suku dan daerah tentu saja memiliki rumah adatnya masing-masing. Yogyakarta dengan rumah adat Joglo, Masyarakat Padang dengan Rumah Gadang, dan lain sebagainya. Begitu pula dengan Suku Mentawai, yang memiliki 3 jenis rumah adat, di antaranya adalah Uma, Lalep, dan Rusuk.

Uma adalah rumah dengan bangunan besar, kira-kira 20 m x 15 m persegi. Kegunaannya adalah untuk tempat menginap bersama, menyimpan pusaka-pusaka dan benda warisan, penyimpanan tengkorak hasil buruan, pelantikan Sikerei, musyawarah masyarakat, dan tempat untuk persembahan. Selain itu, Uma juga digunakan sebagai tempat melakukan upacara adat dan pertemuan kerabat keluarga.

img-uma.jpg
Via: Suku Mentawai

Rumah adat ini ini dihuni oleh secara bersama oleh tiga hingga lima keluarga. Uniknya, uma dibangun tanpa menggunakan paku, tetapi dipasak dengan kayu yang kokoh serta sistem sambungan silang bertakik. Pondasinya ditanam dengan kedalaman sekitar dua meter di bawah permukaan tanah. Pembangunannya biasanya berlangsung selama kurang-lebih 1 bulan secara gotong royong.

Saat uma selesai dibangun, maka uma akan dipestakan. Pesta tersebut bermakna sebagai ungkapan rasa syukur, kegembiraan, keselamatan, dan kesejahteraan keluarga anggota uma. Dan ketika pesta selesai, barulah uma diisi dengan barang-barang seperti gendang, tombak, lambang uma, tengkorak hasil buruan, dan lain sebagainya.

Bentuk uma mirip dengan bentuk rumah panggung, yang kolongnya kerap kali digunakan untuk tempat beternak hewan atau memelihara kepiting merah. Atap uma terbuat dari daun rumbia dan tumbuhan-tumbuhan lain yang didapat dari pantai ataupun rawa-rawa. Masyarakat Suku Mentawai secara rutin mengganti atap uma di saat musim penghujan.

inside-an-uma-a-traditional.jpg
Via: Trip Advisor

Ruangan di dalam uma bisa dibagi menjadi dua jenis, yakni bagian depan dan bagian dalam. Bagian depan mencangkup tempat untuk mencuci kaki dan serambi yang terbuka. Di sinilah keluarga dapat berkumpul dan bercengkrama, musyawarah saat terjadi konflik, dan para tamu untuk bersinggah. Pada malam hari, tempat ini merupakan tempat tidur bagi pria dari anggota keluarga.

Bagian dalam mencangkup tempat tidur untuk wanita dari anggota keluarga dan tempat memasak. Tempat memasak berupa tungku  perapian. Di bagian dalam jugalah tempat diadakannya ritual tari-tarian adat khas suku Mentawai.

Di bagian belakang uma biasanya terdapat halaman yang tidaklah sempit. Di sanalah masyarakat suku Mentawai menanam pohon sagu, yang juga menjadi sumber makanan bagi mereka.

Uma erat kaitannya dengan ideologi milik Suku Mentawai di Sarereiket, yakni ideologi umaisme yang terdiri atas 5 unsur, yaitu Kepercayaan, Keadilan, Musyawarah, Keseimbangan, dan Rahasia.

zYIiC8x7Qt.jpg
Via: Okezone

Sayangnya, saat ini uma termasuk sulit untuk ditemukan. Hal ini dikarenakan pada saat orde baru, terjadi pemaksaan terhadap suku Mentawai untuk memeluk agama yang resmi diakui pemerintah. Hal ini mengakibatkan pembakaran uma dan alat-alat ritual adat Sabulungan secara massal pada saat itu. Sekarang yang ada kebanyakan adalah lodging atau penginapan yang dibentuk menyerupai Uma.

Saat ini, uma masih bisa ditemukan dalam bentuk aslinya di Pulau Siberut. Jadi apabila kalian berkunjung ke Mentawai, pastikan bahwa kalian dapat mengunjungi pulau Siberut dan menyempatkan diri untuk bersantai dalam uma, rumah adat suku Mentawai ini.

 

cover illustration via: wikipedia

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s