Kerik Gigi; Kecantikan Wanita Suku Mentawai

Sejak zaman dahulu, kecantikan merupakan hal mutlak yang didambakan kaum wanita. Dari mana pun asalnya, masing-masing kelompok kebudayaan selalu memiliki standar kecantikannya masing-masing. Standar kecantikan ini kemudian membentuk suatu tradisi untuk mencapainya, mulai dari tradisi yang unik, menarik, hingga tradisi yang membuat kita bergidik.

Dalam kepercayaan masyarakat suku Mentawai, ada ciri khas yang membuat wanita-wanita dalam suku Mentawai dianggap lebih cantik dan menarik. Ciri tersebut ialah gigi-gigi yang runcing. Tak ayal, tradisi kerik gigi dilakukan sejak lama. Wanita-wanita suku Mentawai, khususnya istri dari kepala desa, wajib melakukan tradisi yang sudah ada sejak jaman nenek moyang mereka ini sebagai simbol mencapai kedewasaan seorang wanita.

072415600_1432706573-259afef0e40dfc41e345d7691fe4cf3d.jpg
Via: Liputan 6

Tujuan dilakukannya kerik gigi pada seorang wanita, selain sebagai simbol kedewasaan, ialah supaya terlihat cantik dan menyeimbangkan tubuh serta jiwa bagi sang wanita. Dipercaya bahwa setelah melakukan ritual kerik gigi, maka jiwa wanita yang dikerik giginya akan dipenuhi oleh kebahagiaan dan kedamaian. Bahkan, dijelaskan dalam buku karya Stefano Coronese yang berjudul Kebudayaan suku Mentawai, bahwa kerik gigi dimaknai sebagai lambang perjuangan dalam menemukan jati diri bagi gadis-gadis Suku Mentawai.

Proses penajaman gigi dilakukan secara tradisional, yakni menggunakan pahat, batu, serta tidak menggunakan obat bius atau anastesi. Alat-alat yang digunakan diasah terlebih dulu hingga tajam, sehingga akan mempermudah jalannya ritual. Tentu saja, proses ritual ini cenderung menyakitkan. Terlebih, prosesnya memakan waktu yang tidak sebentar karena banyaknya gigi yang harus ditajamkan. Dalam ritual ini, gigi ditajamkan menjadi bentuk segitiga.

Tradisi-Kerik-Gigi-di-mentawai-sumatera-barat.jpg
Via: Telusuri Indonesia

Namun, setelah wanita yang dipangur giginya melihat hasil dari ritual tersebut, mereka akan merasa puas, bahkan melupakan rasa sakit yang dirasakan saat ritual. Hal ini dikarenakan mereka merasa bahagia dan cantik dengan gigi yang sudah dikerik.

Seiring berjalannya waktu, praktik kerik gigi pada wanita Mentawai  lebih membutuhkan kesepakatan antara pihak wanita dan pelaksana ritual, dan fungsinya lebih untuk menyediakan kebutuhan si wanita itu sendiri (supaya dapat tampil cantik dan menarik), dibanding sebagai kewajiban. Walaupun begitu, dalam sejumlah keluarga, masih ada anggota keluarga yang mewajibkan praktik ini pada anak perempuan atau istri mereka.

Seperti halnya tradisi unik lain di dunia, ritual kerik gigi kini mulai ditinggalkan oleh masyarakat suku Mentawai. Pengaruh dunia luar menjadi alasan utama terkikisnya budaya leluhur Mentawai.

Yuk, kita bantu lestarikan budaya suku Mentawai bersama Magic of Mentawai!

 

cover illustration via: Pinterest

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s