Sikerei; Dukun Tradisional Mentawai yang Perannya Kian Terkikis

Suku Mentawai memiliki berbagai macam ritual adat. Mulai dari ritual adat saat pesta, berburu, hingga ritual adat yang dilakukan untuk pengobatan. Ritual-ritual tersebut biasanya dipimpin oleh seorang dukun tradisional yang disebut Kerei atau Sikerei.

Sikerei merupakan dukun yang digunakan jasanya oleh suku Mentawai untuk pengobatan, ramalan nasib, penyemarak pesta, dan lain sebagainya. Namun sebenarnya, fungsi-fungsi tersebut hanyalah varian dari peran Sikerei yang sebenarnya, yakni sebagai mediator atau perantara untuk menjaga kelancaran arus komunikasi antara manusia di alam nyata dengan makhluk halus di alam maya agar harmoni bisa tetap terjaga.

mentawai-kerei11.jpg
via: as worlds divide

Menurut kepercayaan suku Mentawai, manusia sebagaimana penghuni dunia nyata dan makhlus halus sebagai penghuni dunia lain dapat saling berbenturan tanpa salah satunya—biasanya manusia—menyadari bahwa dia telah berinteraksi dengan warga dunia yang lain itu. Karena itu, mereka meyakini bahwa hubungan dengan semua roh dan jiwa ini harus dijaga baik-baik, dengan cara menghibur, memberi makan, menghormati, dan lain sebagainya. Apabila tidak, maka manusia dapat terkena celaka seperti wabah penyakit atau bahkan kematian. Di sinilah peran Sikerei, yaitu untuk mengharmoniskan hubungan antara manusia dan roh dan jiwa ‘halus’ tersebut.

Untuk menjadi seorang Sikerei tidak bisa sembarangan. Profesi Sikerei bukanlah profesi yang bisa dicari, melainkan merupakan sebuah panggilan. Panggilan tersebut umumnya diwujudkan dalam mimpi. Mereka percaya bahwa yang memilih Sikerei adalah Taikamanua (penguasa langit) yang merupakan penguasa tertinggi alam semesta yang meliputi dunia bawah, dunia tengah, dan dunia atas. Setelah terpanggil, Sikerei akan dibekali kemampuan untuk berbicara dan memahami bahasa roh yang ada di dunia lain.

129.jpg
Via: Danan Wahyu

Selain itu, suku Mentawai juga cenderung bergantung kepada Sikerei di bidang kesehatan. Karena itu, Sikerei haruslah pandai mengobati, dan juga harus pandai menari. Karena menari merupakan salah satu bagian dari ritual pengobatan.

Kini, Sikerei hanya bisa ditemukan di wilayah selatan Pulau Siberut, seperti Rogdog,  Madobag, Matotonan, Salappa dan Simatalu. Adapun di pulau Sipora, Sikakap, dan lainnya, Sikerei sudah tak ada lagi. Hal ini dikarenakan sapuan teknologi yang sudah berkembang pesat, sehingga masyarakat tidak lagi membutuhkan kemampuan Sikerei. Mereka kini lebih bergantung pada fasilitas kesehatan modern seperti puskesmas. Selain itu, generasi muda Mentawai lebih suka bersekolah ke Tanah Tepi, kemudian pulang dan menjadi pejabat pemerintah.

Di kasus lain, banyaknya turis asing yang datang untuk melihat pesona budaya suku Mentawai, terutama Sikerei, justru membuat banyak pria dewasa Mentawai merasa bisa menjadi Sikerei, cukup berbekal tatto di sekujur tubuh dan ketrampilan menampilkan berbagai tarian. Pria-pria dewasa tersebut terkadang menyaru menjadi Sikerei dengan tujuan untuk mencari uang dari turis asing.

 

Cover Illustration via: as worlds divide

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s