Kelahiran dan Kematian di Suku Mentawai

Kelahiran di pagi hari, kematian di senja hari. Setiap etnis memiliki adat istiadat mengenai kelahiran dan kematian yang berbeda-beda. Sebagian sudah bercampur dengan tata cara agama. Bagaimana dengan adat kelahiran dan kematian di Suku Mentawai?

Menurut Suku Mentawai, kelahiran merupakan momen yang tidaklah sakral, sehingga tidak banyak upacara adat yang dilakukan untuk memperingatinya. Selain itu, kelahiran bersifat amat duniawi bagi mereka. Oleh karena itu, Suku Mentawai mengadakan momen kelahiran di tempat yang bersifat duniawi pula.

Tempat yang dimaksud adalah ladang. Ladang dianggap bersifat duniawi karena manusia mencari nafkah serta bercocok tanam di ladang. Wanita yang tengah hamil biasanya dibawa oleh suami dan ibunya menuju ladang seminggu sebelum melahirkan supaya tinggal di sana hingga saatnya melahirkan.

mentawai-tribe.jpg
Via: Trip Advisor

Lalu, bagaimana dengan upacara kematian suku Mentawai?

Dalam adat suku Mentawai, kematian dikategorikan menjadi dua. Yang pertama ialah kematian simaeru, yaitu kematian yang disebabkan penyakit yang tidak bisa disembuhkan. Sementara yang kedua adalah kematian sikatai, yaitu kematian yang disebabkan oleh hal yang tidak terduga, misalnya tenggelam di laut, tertimpa kayu, dan dibunuh

Ketika ada orang yang meninggal, maka berita duka disampaikan dengan bunyi tuddukat dengan irama loiba. Tuddukat merupakan alat komunikasi tradisional suku Mentawai. Irama loiba yang digunakan akan menginformasikan tentang usia dan jenis kelamin orang yang meninggal.

Pada saat melayat, tidak semua orang dibolehkan pergi melayat. Wanita hamil atau yang memiliki bayi beserta suaminya tidak diperbolehkan pergi melayat, karena diyakini bisa diganggu oleh roh orang yang meninggal (ketcat).

download.jpg
Via: Jurnalis Travel

Saat meratapi si mati, orang-orang suku Mentawai membungkus kepala mereka dengan kain warna-warni dan melepas seluruh perhiasan yang biasa mereka gunakan. Peti mati disiapkan oleh para pria suku Mentawai untuk pemakaman. Pemakaman suku Mentawai berada di tempat yang terpencil. Saat dimakamkan, orang yang meninggal diberi sesaji dan sedikit hartanya ketika masih hidup.

Sehari setelah pemakaman, akan diadakan pembuatan kirekat, yaitu gambar tapak kaki dari orang yang meninggal di sebuah pohon durian milik keluarganya. Hal ini ditujukan untuk kenang-kenangan tentang orang yang meninggal tersebut.

Kemudian, untuk mengakhiri masa berkabung, akan dilakukan upacara Panunggru, yaitu upacara perpisahan antara orang yang meninggal dengan keluarganya untuk selama-lamanya. Upacara ini dilakukan antara 1-3 bulan setelah pemakaman, tergantung dari kesiapan keluarga orang yang meninggal.

dsc_6228.jpg
Via: Si Bajak

Upacara Panunggru diawali dengan Pasibari di malam hari. Pasibari merupakan pemanggilan ketcat (arwah orang yang meninggal) oleh Sikerei. Lalu, Sikerei akan meminta pada ketcat untuk meninggalkan rumah. Terakhir adalah mengadakan paneka kagerat di halaman rumah untuk mencegah roh-roh jahat menunggui upacara sekaligus memohon pada roh-roh baik supaya memberi Sikerei kekuatan untuk melaksanakan upacara Panunggru.

Itulah sekilas mengenai tradisi kelahiran dan kematian di Suku Mentawai. Apabila ditelaah lagi, sebenarnya masih banyak upacara dan tahapan yang dilakukan pada saat terjadi kematian, dan semuanya memiliki maknanya tersendiri. Bagaimana dengan adat kelahiran dan kematian di daerah kalian?

 

cover illustration via: As Worlds Divide

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s